Waktu dulu sebagai Mahasiswa, saia lumayan sering mudik ke kampung. Perjalanan Magelang-Jakarta itu biasa saia tempuh dengan dua alternatif kendaraan. Kalau tidak Bus (Ekonomi non AC), ya Kereta Api (Ekonomi non AC, pula). Meskipun kata Iwan Fals dalam syair Kereta Tiba Pukul Berapa dikatakan bahwa kereta terlambat, dua jam mungkin biasa, alhamdulillah…selama saia berlangganan Bengawan Airlines serta Progo Airlines, jarang sekali terlambat sampai dua jam.
Ketika mudik ke Magelang, sampai jam berapapun tidak masalah. Nah, ketika balik ke Jakarta lain cerita. Sebab, biasanya saia balik ke Jakarta pada hari yang sama saia harus menjalankan aktivitas (baca: kuliah ato bekerja), misal pada hari Senin pagi. Kalau menggunakan jasa KAI Airlines relatif tidak ada masalah, sebab sampai Senin sekitar Subuh atau bahkan sebelumnya. Hanya saja, karena di kota saia tercinta enggan menghidupkan kembali stasiun-stasiun zaman perjuangan dulu (bukannya tidak punya, ya?), alhasil untuk naik kereta harus ke Jogja tau ke Kutoarjo. Yang mana ditempuh dengan kendaraan bilamana milik pribadi niscaya mengambil waktu berkisar satu sampai dua jam.
Atas pertimbangan itu, saia kadang lebih suka menunggang (kata lain dari “naik” yang berlaku di daerah saia) bus. Karena di Magelang ada bus yang cukup terkenal dan berpusat di kota itu yaitu PO Santoso. Jadilah PO Santoso ini menjadi langganan saia hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Saia setia dengan PO ini karena dapat mengantarkan saia sampai Lebak Bulus maksimal jam enam pagi. Memang Santoso ini terkenal karena sopirnya banyak titisan Mikel Syumekker. Tiga tahun kuliah saia mengukir kenangan indah bersama PO langganan saia ini.

Namun, ternyata semua berubah. Ketika saia telah bekerja di daerah sekitar Blok M. Padahal di kantor saia menerapkan absensi yang ketat masuk jam 07.30. Zero tolerance. Saia sih tetap tenang-tenang saja karena PO langganan tidak pernah melampaui waktu tersebut. Apalagi sekarang turunnya di Mampang, jauh lebih dekat dari final destination sebelumnya: Lebak Bulus. Awal-awal bulan saia bekerja hampir setiap minggu mudik. Karena ada bisnis kecil-kecilan yang sedang saia jalankan dengan kawan di kampung. Naasnya, hampir setiap minggu itu pula saia terlambat masuk kantor. Entah apa yang terjadi, PO Santoso yang dulu tercinta sudah mulai ingkar janji.
Bagaimanapun saia tetap setia. Saia masih teringat kebersamaan indah yang pernah kami lalui selama tiga tahun lalu. Tetap PO itu menjadi langganan tiap kali balik ke Jakarta. Namun, kesetiaan saia rupanya berbalas air tuba. PO Santoso tetap saja terlambat mengantarkan saia ke kantor. TIDAK PERNAH TIDAK!
Berikut sedikit data dan fakta sebagai bukti PO San**** (percuma dibintang yang di atas sudah banyak,,,hihi) tersebut ingkar janji:
1. Pulang lebaran. Bersama seorang oknum rekan kantor berinisal ANS. Sudah menjadi “harap maklum” bahwa saat lebaran kedatangan Bus untuk mudik tidak menentu. Saia pesan yang berangkat sore, biar bisa bekerja ke kantor dulu. Eh, disuruh standby mulai jam 6 pagi. Baiklah, memang sopir adalah raja, karena punya slogan “Kalau gak mau turun aja!”. Dan penumpang pun diam sambil beristighfar (atau cemberut atau menggerutu). Nah, karena saia berpikir konservatif bahwa bus gak mungkin on time, saia agak nyante jam 6 dari kantor pun tak mengapa. Tapi rekan perjalanan saia ternyata agaknya lebih konservatif dari saia, alhasil dia setengah tujuh baru sampai kantor. Maka buru-buru kami berangkat, sekitar jam 7 sampai pool San****. Masih banyak terlihat penumpang menunggu, masih banyak armada bus yang diparkir. Ketika menemui pihak PO-nya, katanya Bus kami baru berangkat lima menit lalu. WHAAT?? Trus dua bangku kosong sudah digantikan penumpang di bus belakangnya. Wah, baiklah… Mungkin Bus belakangnya sebentar lagi datang. Setelah menunggu beberapa menit lebih beberapa jam…. ternyata bus masih belum datang. Selidik punya selidik, ternyata hanya Bus kami yang ontime, yang lain…speechless…mau dibilang molor kok gak ngira-ira…masih terlalu halus istilahnya. Bus itu baru datang dengan muka innocent jam 11 siang! Setelah, mentari terik. (menghibur diri: alhamdulillah dapat tilawah lumayan). Pertanyaan selanjutnya, jam berapa bus itu sampai tujuan? Jam 5 pagi hari berikutnya Saudara! (menghibur diri: alhamdulillah sampai dengan selamat).

2. Saia bersama Saudara sepupu. Yang sangat membanggakan PO ini. Sekilas curiga jangan-jangan dia merangkap sebagai salesmarketing-nya. Bahwa dia belum pernah telat naik Santoso. Saia hanya diam saja mengamini. Jam berapa sampai Jakarta? Jam 10. Jam berapa masuk kantor? Tetep 7.30. Sepupu saia menjalani debut telatnya. Well done, guys..
3. Saia bersama salah satu pejabat di kantor. Kebetulan saja ketemu di bus. Meski tidak menjadi teman duduk, tapi kami mengobrol lumayan banyak. Termasuk bahwa biasanya dia naik bus ini dan sampai Jakarta pada waktu Subuh. Saia pun berusaha meyakinkan diri sendiri. Informasi yang didapat katanya Pantura padat sangat. Karena habis long weekend. Sehingga setelah diadakan syuro kilat dengan kernet-nya, sopir berinisiatif mengambil jalur alternatif. Bukan jalur utara ataupun jalur selatan. Tapi jalur tengah. Baru pertama kali saia melewati jalur ini. Lewat Wonosobo, terus ke Banjarnegara, dan entah mana lagi. Sepanjang jalan penumpang memuji ilmu sopir yang mengetahui jalur yang belum banyak diketahui sopir lainnya. Hanya saja, jalan ini seperti Jalur Weleri. Yang berkelok-kelok tiada habisnya. Ada yang mabuk? Bisa diduga. Tapi tidak mengapa, yang penting sampai tepat waktu. Sampai kemudian, sekitar jam 10 malam, entah di daerah mana, Bus menepi. Sepi. Ternyata terjadi kerusakan mesih entah apa. Saia menduga karena medan jalan tidak dapat diarungi bus yang malang ini. Sesaat kemudian, puja puji akan ilmu si sopir satu per satu ditarik kembali oleh para penumpang. Keadaan sangat ngantuk tapi disuruh keluar karena Bus harus diangkat dengan dongkrak. Satu jam. Dua jam. Pukul 00.00 saia rasa 90% penumpang kompak menggerutu. Satu jam kemudian gerutuan meningkat levelnya makian ringan, penyesalan atas keputusan salah yang mengakibatkan risiko menjadi muncul. Jam 02.00 dini hari semua reaksi mengendur, beralih menjadi doa atau entah apa. Mungkin terlanjur pasrah dan menikmati semua. Dan jam sekitar jam 03.00 sempurnalah saia dan rombongan terdampar selama 5 jam entah di mana. Jangan tanyakan kapan saia sampai kantor. Sekitar Dhuhur kira-kira! Apa komentar pejabat rekan sekantor saia? “Gak tau ya Mas, kok tumben telat.”. Rupanya debut juga beliau. Nice!
Mungkin itu saja yang dapat saia tuliskan, karena memang sudah terlalu banyak. Dan terakhir kemarin, bulan lalu, saia dan seorang teman lama kebetulan bareng ke Jakarta. Saia tetap memesan PO langganan (kasih penumpang sepanjang zaman, red.). Namun, ternyata, SOLD OUT. Wow! Akhirnya beralihlah saia ke bus lain. OBL Safari D.R. Sekalian untuk mencari tahu apakah bus lain bisa mengantarkan saia dengan tidak telat. Saia tanya ke teman saia: “Sering telat gak kalo balik?”. “Gak” katanya. Biasanya sebelum jam enam juga sudah sampai. Dan lagi-lagi, rupanya perjalanan kami luar biasa. Kalau biasanya sebelum jam enam sudah sampai, ternyata dengan predikat luar biasa saia sampai kantor jam 9. Mantab Jawa!

Entah apa yang terjadi antara saia dan oknum-oknum Bus itu semua. Semenjak saia bekerja, dan itu sudah hampir 3 tahun, tidak pernah tidak telat. Tentu ini bukan kutukan, kan? Saia gak percaya bus bisa mengutuk.

Kita nantikan rekor saia untuk tidak telat balik naik bus… wallahu a’lam.
.
note: bukan untuk mendiskreditkan, yang telat bukan seluruh merk bus tersebut. tetapi bus yang saia tumpangi. apapun busnya, telat pastinya. Mesakke!
Mantafff….Bro…lanjut..Lanjut,,,,
wah masih teringat juga wan,…btw yang sama mas HK enggak kamu tulis skalian?
yang itu soalnya dari bandung mas…naiknya juga bukan sant***. Jadi out of topic..hehe
Dlu malah pernah no yg saya pesan 1 bulan seblum malah ada dobel..
Saya disuruh ngalah dgn alasan mereka rombongan.
Saya bilang,saya duduk di sini atau kembalikan 10x lipat tiket,jika tidak mau maka akan saya laporkan ke YLKI serta saya buat rame di media publik..
Akhrny dia ngalah..
wah mantap ni mas asep. emg harus tegas gitu ya mas? Biar benar2 jadi pelanggan adalah raja.
ngiklan blog ni critanya pak..?
sekarang…
hahaha, maaf, saya turun di grogol kalo naek santoso, ngojek 10.000, sampai kantor jam 06.00 (varians= 15 menitan lah), mandi, onlen,download sekalian sarapan,..
(satu bulan kemudian)…
maaf, saya ga naik bis lagi, pulkam naek pesawat..hohoho, penempatan greng..
welah, saya baru sekali naik santoso, dari jakarta ke purworejo, dan mendarat dengan sukses di don bosko, alhamdulillah, kalo dari surabaya?
saya percayakan pada gumarang services, secara gumarang adalah rate tertinggi yang bisa saya capai kala kuliah^^
sekarang?
no plane, no way… lha lewat laut mad, wes tau numpak bis n sukses 20 jam perjalanan suroboyo-mataram-_-
Waaaaaaaaaaahhhhh… Mantabb mas,,, pengalaman sama dgn PO. Ro****a In**h,
ditinggal ga dikembalikan..we e e e
saya udah lama ga naik…motor terus neh pka