“…masa muda masa yang berapi-api
yang maunya menang sendiri
walau salah tak peduli
darah muda aa..aaa…aa”
.
.
.
Ehm,,,cuplikan syair dari Bang Haji di atas cukup menginspirasi saia untuk menulis tentang hal ini. Tentang masa muda.
Kenapa masa muda? Kenapa tidak masa remaja? Masa kecil? Masa tua? Sederhana saja, karena saia “merasa” sudah, sedang, dan masih muda. Menjadi jauh lebih mudah memang berbagi tentang sesuatu yang sedang kita alami. Daripada dengar dari orang lain, atau sambil mengingat-ingat masa lalu. Mending berbagi terhadap apa yang sedang terjadi.
Apakah masa-masa ini masa yang indah? Di mana terdapat banyak kisah-kasih, kisrah kisruh, atau mungkin krosak kresek yang dialami setiap orang. Mungkin iya, bagi banyak orang. Sayangnya tidak, bagi saia. Hix…
Alasannya adalah, karena tekanan, tarikan, uluran, dan dorongan untuk membuat alur tentang kisah kasih begitu kuat dalam masa-masa ini. Padahal kan gak boleh!? (ya gak sih?)
“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya“.[HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa'iy (2246)]
Nah lo, gak ada celah sama sekali sepertinya untuk mengukir kisah kasih sebelum menikah. Kaidah dalam hadist di atas adalah: Yang telah MAMPU>>>menikahlah. Nah yang BELUM MAMPU>>>puasalah!
Bukan terbalik bahwa, yang tidak mampu puasa>>>menikahlah, jika mampu puasa>>>puasalah!
Poinnya terletak pada mampu tidaknya menikah, bukan mampu tidaknya puasa. Di sinilah banyak orang yang menerapkan secara salah. Banyak kita lihat seseorang yang (menurut kita) mampu menikah, tapi menunda-nunda, entah apa yang dia cari. Mungkin dia belum pengen. Jadi masih kuat puasa. Padahal bukan masalah kuat puasa atau tidak, tapi (sekali lagi) sudah mampu menikah atau belum.
Kondisi lain, orang yang (menurut kita) terburu-buru sekali untuk menikah, padahal belum mampu. Alasannya adalah, karena sudah tidak kuat puasa. Seharusnya pertanyaannya adalah, sudah mampu belum? Kalau sudah mampu nikah, ya monggo. Tapi kalau belum, nikah cepat seperti itu mungkin akan lebih banyak mudharatnya. Wallahu a’lam.
Mampu itu seperti apa? Nah itu akan panjang sekali bahasannya. Saia sendiri tidak terlalu yakin. Yang jelas akan menjadi subyektif dan kondisional bagi masing-masing individu.
Fokus yang ingin saia tulis adalah tentang masa muda-nya. Bukan menikahnya. Mari kembali ke tema.
Saia sering berpikir, kalau bisa, saia ingin men-skip masa muda saia ini sampai pada titik waktu di mana saia sudah menikah. Hhhaaa…
Bukankah ini masa yang penuh warna warni?? Saia sudah nyatakan di awal: tidak. Atau paling tidak lebih banyak buramnya daripada warna warninya. Bagaimana tidak? Naluri darah muda menggejolak. Lingkungan pada umumnya menyediakan banyak fasilitas. Tetapi Alloh melarangnya. Melarang untuk mengukir kisah sebelum melalui gerbang yang ada.
Namun memang terlalu berat fitnah-fitnah (baca: cobaan) yang ada. Terlalu beragam pula modus operandinya. Semakin lama semakin canggih dan rapi. Dalam keadaaan paling bagus pun entah seperti apa. Apalagi dalam keadaan futur. Speechless…*hammer*
Jadi, seandainya bias, saia ingin skip aja deh, trus tiba-tiba udah mau akad nikah! Hahay….
Hanya saja, saia teringat sebuah hadist shahih dari Mu’adz bin Jabal r.a. yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani (lihat ash-Shahihah no. 946), bahwa, yang ditanyakan pada hari kiamat adalah:
“Untuk apa umurmu kau habiskan?
Untuk apa kau gunakan masa mudamu?
Dari mana kau peroleh hartamu? Untuk apa kau membelanjakannya?
Apa yang kau lakukan dengan ilmumu?”
Jadi ngeriii….bahwa selain umur secara keseluruhan, masa muda ditanyakan secara khusus. Tentu ini berarti masa ini sangat penting. Diperlukan LPJ khusus. Dan diaudit tersendiri. Nah, apa yang akan saia jawab, kalau saia menskip masa ini. Bisa-bisa LPJ masa muda saia akan mendapat opini disclaimer, atau bahkan adverse.
Baiklah, mari kita jalani saja. Dengan selalu mohon kekuatan padaNya. Masa muda dengan segala warna warninya. Dengan segala naik turunnya. Tangis dan tawa. Dan semuanya…
.
.
“…biasanya para remaja
berfikirnya sekali saja
tanpa menghiraukan akibatnya
wahai kawan para remaja
berfikirlah kalau melangkah
agar tidak menyesal akhirnya…” (dangdut mode: on)


miris sekali saya membaca tulisan ini..
anak muda jaman sekarang
Apakah Anda termasuk>?
maksudnya?
masa mudanya Roma = maunya menang sendiri..
masa mudanya Iwan = yang maunya menang berdua…
hehehehe…
Ayo, wan, meski susah tak peduli…i…i..i..
Nikah Muda….
persis