Ditulis dengan tinta air mata dan kertas remuk redam…
.
.
Dear waktu,
Detik masih terus berlalu dan aku masih berharap sama. Teruslah berlari cepat Kau, Detik! Sehingga segera berubah menjadi kakakmu, Menit. Dan Menit cepatlah Kau enyah! Karena aku sudah tidak sabar menunggu hari. Bergantilah minggu, bulan, dan bahkan tahun sesegera mungkin.
Kubutuh kalian semua dengan langkah cepat, selayak Bolt. Aku tidak butuh kalian yang selambat Koala. Karena aku tahu, itulah obat yang kubutuhkan saat ini. Waktu. Ya, waktu yang cepat berlalu.
.
Dear luka,
Saat fajar menyingsing selalu kuraba luka itu, berharap sudah hilang. Dan yang terjadi adalah sebaliknya.
Padahal sebenarnya aku tahu, salah satu cara mujarab menghilangkan sakit adalah melupakan bahwa kita sedang sakit. Tapi aku malah selalu mengingatnya kembali, meski dengan maksud mencari tahu. Tapi semakin mengingat maka sakit itu tidak akan pernah pergi. Karena si sakit tahu, bahwa dia merasa diperhatikan. Tidak diacuhkan. Maka si sakit tetap tidak akan bergeming dari tempatnya.
.
Dear otak,
Kau adalah pembeda bahwa aku makhluk sempurna dibanding yang lain. Maka kau harus kuat. Kumpulkan semua logika dan pikiran jernih yang berserakan. Satukan. Kemudian ringkus sang hati yang sedang menyala itu dengan kesejukan yang kau punya.
Pikirkan yang akan terjadi di depan. Life must go on, bro!
.
Dear hati,
Kau adalah segumpal darah yang menentukan segalanya. Tapi tolonglah, untuk kali ini ikutilah apa kata otak. Percayakan saja padanya. Mari mulai berpikir untuk kebaikan semua. Jangan egois kau hati. Resapilah ayat-ayat yang dibaca. Hayatilah sujud yang dilakukan. Kau sudah cukup banyak memompa habis persediaan kantong air mata itu. Dan masih banyak masalah lain yang memerlukan andil air mata. Jangan sampai kita kekeringan nantinya!
.
Dear alur,
Bahwa alur sebuah fiksi menjadi nyata itu bukan gurauan. Bahwa alur fiksi yang sering kau tertawakan itu bisa jadi kau alami. Bahwa alur fiksi yang sering membuatmu geleng kepala itu bisa saja terjadi.
Maka, jadilah wayang yang baik dalam alur yang telah ditentukan. Bukan masalah apa yang terjadi, tapi apa yang akan kita lakukan terhadap yang terjadi.
.
Dear masa lalu,
Kau hanyalah kaca spion. Fungsimu sebatas membantu perjalanan ini. Kau akan kulihat ketika kubutuhkan untuk membantu perjalanan ini. Bukan sebaliknya, untuk menghambat. Jika melihatmu terlalu lama, niscaya akan berbahaya bagi perjalananku. Maka, jalankan fungsimu sewajar spion.
.
Dear masa depan,
Semua adalah misteri. Aku hanya bisa merencanakanmu. Maka hanya syukur dan sabar yang akan tetap menenangkanku.
.
Dear diri ini,
Kau telah melakukan kesalahan fatal. Kau tahu bagaimana tuntunannya, tapi tidak kau hiraukan. Kau tahu bagaimana proses seharusnya, tapi kau abaikan. Kau tahu ini api, tetap kau mainkan.
Nikmatilah semua, rasakan sensasinya, sakitnya, jatuhnya. Segalanya hanya masalah konsekuensi, Kawan.
Kau hanyalah seorang pecundang. Yang tidak berani. Omong kosong hitung-hitungan itu. Omong kosong segala strategi itu. Di medan ini, hanya pemberani yang akan meraih mimpi.
Sampai kapan kau bisa menyiapkan segala bekal yang sering kau sebut itu? Bahkan dalam batas waktu itu pun aku tak yakin kau akan menjadi lebih. Ini hanyalah peringatan kecil, Kawan. Belajarlah. Belajarlah agar hal ini tidak terjadi lagi dalam misi besarmu nanti.
.
Dear seseorang,
Kembalilah ke bumi. Di sini kau hidup. Bukan di bulan, matahari, ataupun mengambang di langit. Tetaplah berpijak. Agar kau tau yang mana nyata dan yang mana fana.
Yang terbaik adalah yang kau punya. Dan yang kau punya adalah yang terbaik. Jagalah.
Arahkan bidikan kalian pada kampung masa depan. Dengan begitu semua akan terasa lapang. Semoga kita berkumpul di jannahNya kelak.
.
.
Saksikanlah aku terjatuh saat ini. Dan saksikanlah aku akan segera bangkit kembali, untuk kemudian melompat jauh lebih tinggi.
South Celebes, 00.55 WITA
Wah, sebuah refleksi diri ya. tapi kayaknya kalimat tinta remuk redam dan kertas air mata… lebih cocok kalo tinta air mata dan kestas remuk redam…
salam
http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/12/p-s-i-love-you/
tx bos, langsung diedit tuh,,,saking gak connectnya sampe gak mikir kalo air mata dan tinta sama2 benda cair…jadi asosiasinya lebih cocok ya..ok tx koreksinya
thanks buat tulisannya,. itu buatku ya?? lebig nge-pasnya ke aku
“Kau telah melakukan kesalahan fatal. Kau tahu bagaimana tuntunannya, tapi tidak kau hiraukan. Kau tahu bagaimana proses seharusnya, tapi kau abaikan. Kau tahu ini api, tetap kau mainkan.
Nikmatilah semua, rasakan sensasinya, sakitnya, jatuhnya. Segalanya hanya masalah konsekuensi, Kawan.”
ini toh yang jadi status d buzz-mu Wan.
dear hati,,
tanamkanlah sebuah ke ikhlas-an, dan semua ini akan lebih mudah dijalani,,,
seberat apapun yg terasa,, mungkin inilah yang terbaik untukmu, untuknya, dan untuk semuanya,,,
Allah tau apa yang terbaik untukmu,,,
Like this, bro. So much. ^_^
*semoga lekas bangkit
kok hampir semuanya ngena ke diriku yah. yg paling manteb yg ini :
“Maka hanya syukur dan sabar yang akan tetap menenangkanku”
susah banget nerapinnya, masih dalam tahap belajar tingkat awal. mudah2an bisa lebih baik lagi.
masa depan tetaplah misteri..
biarlah do’a dan waktu menyingkap kehendakNya kelak..
jalani..nikmati saat ini…dg panduanNya
we might not know, but we have to believe that one day we will..
keep steady, brother!
*awas, y..kl avatarku jelek!!
bagus mz sebuah cerita tentang hati dan pikiran… njenengan sudah tahu obatnya dan semoga Alloh memudahkan kesembuhannya…
Dear Allah,
Saat hatiku diriup merah jambu, dan sekarang dihantam kelabu.
Maka sirami ia dengan cinta-Mu. Seluruh permukaannya, Tanpa sisa. Agar tumbuh benih cinta yang subur dan murni. Tanpa sisa. Sejengkalpun untuk bisa dimasuki hama cinta yang lain. Kalaupun ada yang hinggap, suburkan ia dengan siraman cinta-Mu.
Saat otakku hanya bisa melogika. Maka sadarkanlah ia untuk selalu memahami hal-hal indah yang tak terjangkau logika. Di semua garis hidupya. Yang semuanya, tentu saja sudah kau catatkan dalam skenario Lauhul Mahfudhz-Mu. (Q.S. Al-Baqoroh: 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “)
virus merah jambu….
tulisan jundi memang lebih tepat buat yang masih bujang euy…
keep our spirit…
ayo boy mabit….sabtu…
Bangkitlah Saudaraku!!! HARAPAN ITU MASIH ADA!!!
–ph2–
http://pujohari.wordpress.com
sip2….
maju terus pantang mundur….
semangad2…
\(^_^)/
dan tak yakin bisakah warna putih menutup jelas warna yang telah terlukis jlas
warna putih itu kini telah berpendar jelas..bahkan menjadi warna derivatif yang seperti pasword fb…dengan sangat jelas^_^
Med, aq akhirnya tau sesuatu
luka itu semakin menjadi kalau kita menceritakannya
membaginya berkali2,,
sebaiknya emang cukup kita, dan 1 org lain untuk membantu berpikir jernih
kl ada yang bertanya, cukup dijawab baik2 aja ^^
karena rupanya cm diri kita sendiri yang sebenarnya sanggup membantu keluar dr masalah itu, diri kita sebenarnya tau apa yang harus dilakukan, cm sepertinya diri ini lebih sering mengingkari solusi itu
yup, cm diri kita, dengan izin allah tentunya,, ^^
izin copas, buat diri sendiri.. soalnya mengena sekali.
salam kenal.