Beberapa hari belakangan ini, pegawai di kantor saya sibuk dengan latihan gamelan (entah itu gamelan Jawa atau Bali saya kurang paham). Pokoknya latihan gamelan. Dalam beberapa awal latihan saya mendapatkan peran spesial sebagai penabuh Kethuk. Apa itu kethuk? Kethuk adalah alat yang berfungsi sebagai pengatur tempo bagi seluruh rangkaian melodi gamelan. Jadi kethuk ini mempunyai peran vital dalam berlangsungnya rangkaian yang harmoni.

Pada awalnya saya menikmati karena menabuh kethuk cukup mudah. Hanya ditabuh dengan irama tetap terus menerus dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai trus diulangi lagi dari awal sampai selesai. Bosen kan…? Begitulah yang saya rasakan. Masak pemain gamelan lain penuh tantangan dan saya hanya monoton seperti itu. Akhirnya setelah itu saya mengundurkan diri dari pemain kethuk dan ingin bermain gamelan yang lain.
Akan tetapi, kemudian saya menyadari, ternyata kethuk itu sangat berguna. Karena pernah saya agak sedikit ngelamun dalam memainkan irama kethuk (karena bosan), mungkin tempo yang saya mainkan agak sedikit melambat dan sejurus kemudian mungkin terlalu cepat. Hal ini membuat alunan teman-teman yang lain sedikit banyak terganggu. Ada yang tetap setia mengikuti alunan kethuk saya yang tidak stabil, serta ada pula yang masih yakin dengan irama tempo yang mereka pertahankan sendiri. Alhasil, tidak akan tercipta sebuah harmoni.
Begitulah balada pemain kethuk, sosok yang sekilas terlihat marginal. Mana mau bermain kethuk yang sangat membosankan dan terlalu mudah itu. Tidak menantang.
Namun ternyata peran yang dimainkan kethuk ini sangat vital, fatal, fundamental, eksperimental, dan bukan hanya sekedar bantal.
Belajar dari kethuk, ternyata dalam kehidupan nyata banyak hal yang menyerupai filosofi pemain kethuk tersebut. Banyak orang yang memainkan tokoh vital, namun sering dianggap marginal. Sebut saja tukang parkir, tukang becak, dan tukang-tukang lainnya. Mereka ada tentu karena banyak yang membutuhkan. Tapi tentu saja, tidak ada yang tertarik terhadap peran mereka. Semua hanya dianggap angin lalu. Padahal, semuanya memainkan sebuah harmoni yang teratur. Memainkan irama yang sentral. Tanpa ada mereka, bisa jadi tercipta kekacauan dalam irama hidup ini. Akan terasa sumbang, hambar, fals, dan tidak padu. Sesungguhnya semua orang memainkan lakon yang diberikan Alloh SWT. Apapun peran itu. Dan tidak pernah bosan. Tidak pernah merasa tidak menantang. Karena hidup itu sendiri sudah merupakan tantangan yang tidak mudah ditaklukkan. Pemain kethuk…bagai nasib kaum marginal.





siipp… tulisanmu mulai bagus le… maju terus… maju terus… apakah pemain kethuk sama dengan sampah? om tidak menganggap demikian… setiap peran, bahkan yang paling sederhana sekalipun, tetap punya kontribusi bagi dunia ini… maju terus.. maju terus…
ya om…tetapi saya tetap mengundurkan diri jadi pemain kethuk..:D
Boy… jangan menyerah dan berhenti maen gethuk boy.. tim ini membutuhkan mu…
Bro…,,jangan menyerah gitu to….bener kata Om…”MAJU TERUS….”tiada lagi orang yang main kethuk sebaik dirimu….(kayaknya)
Boy.,,Bagiku Pemain Kethuk adalah Jenderal.., kayak playmaker…sang pemimpin dan pengatur bagi yang lain…
So..,Maju Terus Boy…..
Iya mas bob, kayaknya Anda mengincar posisi saya ya…daripada kita bertengkar, baiklah saya relakan posisi Jenderal/Playmaker itu untuk dirimu…demi persaudaraan kita…
ade..jgn nyerah gitu, dong..yang semangat, ah..jadilah seorang pemain kethuk yang melegenda..
adeee..smangaat..pukul kethuk-nya..mainkan..
Mad, kowe kan wis mahir maen kethuk sejak di magelang tha….?
itu lho, kan dah biasa bikin kethuk trio……………..
semangat Bro………………..
latihan gamelannya tiap kapan, ahmad?
wah, indah betul bila hidup dihiasi seni…
gak tentu juga akh, tapi akhir-akhir ni yang cowok gak pernah latihan lagi, lebih sering grup yang perempuan…
dianggap produk gagal kali ya..hehe
hebat..hebat…ada ya latihan gamelan di kantor??..
jadi pingin, emang dalam rangka apa?..
btw, analogi yg keren…kehidupan marginal dengan pemain kethuk…
gamelan merupakan alat musik tradisional yg harus dijaga keberadaannya.sy sangat prihatin generasi muda skarang yang lebih suka sama musik2 aliran barat. sebagai generasi muda mencoba untuk melestarikan dengan cara membuat gamelan.walaupun gamelan yang saya buat itu tidak terbuat dari perunggu,tp dengan besi.untuk suara tidak kalah dengan gamelan yg dari prunggu cuma kualitas jauh dari yg perunggu. sy bersyukur gamelan yang saya bikin sdh diekspor ke beberapa negara tetangga dan yang pastiny pasaran domestik.
perenungan yang mantap.. di Purnawarman ya?